Ketulusan dan kejujuran harus dibayar mahal jaman sekarang...Ngga semuanya bisa dilihat dengan 'mata telanjang'. Kebohongan, ketidak jujuran, ketidak tulusan sangat terlihat jelas bila mata hati kita masih berfungsi dengan baik. TOPENG KEMUNAFIKAN aku lebih senang menyebutnya seperti itu.
Kebahagiaan yang kita dapat adalah kesedihan bagi mereka. Senang melihat orang lain menderita, dan menderita melihat orang lain senang atau bahagia. SAKIT!!! Ini bukan sebuah cerpen atau dongeng, lebih tepatnya adalah refleksi dari kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sakit hati dan ibarat tintapun tidak dapat menggoreskan kata-katanya lagi.
Pertemanan hanyalah sebatas koneksi bagi kita untuk memperlancar jalan yang kita atau mereka inginkan. Basa basi sudah sepantasnyalah mereka atau kita perankan. Tidak lagi memakai kejujuran, keterbukaan atau belas kasihan lagi. Saling menikam dari belakang itu terasa. Diantara manusia-manusia seperti itulah mata hati harus digunakan.
Duh Gusti, mohon jauhkanlah hamba dari orang-orang dengan topeng-topeng kemunafikan seperti itu. Sedih dan sakit hati ini bila menemui atau mendapatkan orang-orang disekitar hamba seperti itu. Bahkan mungkin lebih sering menjadi korban dari keegoisan mereka.
Tidak apa, aku selalu menentramkan hati ini. Saatnya melihat dan menilai, mana teman mana lawan. Kalau bisa sebelum kita dimakan kita yang menerkam. Jahat memang bila kita berlaku seperti itu, dan kita seperti mereka juga. Miris. Namun realita kehidupan ini tidak dapat dipungkiri lagi. Saatnya berontak dan bangun. Akupun muak untuk berpura-pura baik dan peduli.
Jakarta, 30 Maret 2010
[aprilia]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar