hanya sebait...cukup sebait...
karna tak cukup satu huruf untuk menjelaskan indahnya perasaan itu
ketika kau lihat awan di gugusan langit cerah
adakah itu indah?
saat malam yang memelukmu tak lagi hangat
adakah perasaan itu mendekap erat batin mu?
perlahan kau selami setiap kedip mata itu
yang coba kau sematkan dalam hitungan waktumu
rasa itu menuai indah
aura cantik jiwamu terbingkai oleh rasa itu
namun kembali kau menunduk di tengah angin
lalu...saat kau berdiri di ruang angin itu
seperti ada bisik pelan menyentuh angan..
entah apa jua bisik itu memeluk mu
hangatnya melebih malam
hangatnya terasa mendamaikan
dan kau pun membuka kelopak mata
kau lihat...
sebuah balutan hari menemanimu, melampaui dingin angin dan hujan
seketika...hujan turun membasahi hatimu
bisikan itu dengan mesra mendekapmu dalam basah dan berkata
"tuan puteri engkau berdiri di sini, di tanah basah hujan risau..."
seraya menetes air mata...kau jujur ke hatimu...apa ini?
dan hujan semakin deras...menggigilkan jiwamu
jiwa yang kau hidupi mulai beku
tetesan air mata itu...
tak lagi berasa oleh deras guyur hujan di pundakmu
"...tak berasa lagi..." , katamu
"...kuingin hujan berhenti..dan ku kan berlari..."
seperti memikul bumi, berat kaki tak kuasa kau angkat dan kau tertanam
kemudian...sekejap mata kau menghilang
ditelan deras hujan sore itu...
bisikan itu perlahan menyeka air di pipimu
menghampirimu ...
namun kau tetap menggigil
lalu dia berbisik
tuan puteri, bertahanLah...kau tertanam dalam hujan ini
namun percayalah...hujan pasti akan berhenti
dan pelangi akan muncul bagimu..
ijinkan aku menemanimu dalam dingin dan basah hujan ini...
lalu kita akan bermain di pelangi yang indah itu
mengurai rambutmu
melepas tawamu
mewujudkan semua keinginanmu
sesaat berlalu...
pelangi itu muncul dengan sebuah kertas kecil di ujung nya
tepat di ujung warna biru...
kertas kecil bertuliskan...'' Untuk Tuan Puteri ''
Jakarta, 1 st August 2008
[aprilia]
1 komentar:
makasih ya untuk tulisannya, gak pernah ngebosenin
Posting Komentar