Perjalanan dari arah bandara Soekarno-Hatta. Minggu siang dan gerimis. Hari itu aku dan kakak sepupu jemput Papa dibandara, kebetulan beberapa hari ini Papa ada acara di Jakarta. Disepanjang perjalanan bandara ke apartment, di jok belakang aku ngeliatin rumah kumuh di bawah jalan tol yang kami lalui. Membayangkan Indonesia yang mungkin tidak akan lepas dari kemiskinan. Tragis dan klise banget memang...
Lebih dari 100 tahun yang lalu, seorang ekonom melakukan sensus di Italia. Namanya adalah Pareto. Dia menemukan fakta bahwa 80% uang yang bersirkulasi di sebuah negara dihasilkan dan dinikmati oleh hanya 20% rakyatnya. Ini berlaku dimanapun. Termasuk Indonesia.
Penemuan tadi pada akhirnya dinamakan THE PARETO LAW atau lebih dikenal dgn nama THE 80-20 RULE...bener gitu nggak sih....hehehe
Ini sedikit membawaku kepada sebuah pemikiran… Selama ini aku salah, aku selalu berharap meningkatnya jumlah orang yang “mampu”. Padahal yang bener seharusnya orang “mampu” lebih mau untuk memberi. Biar gimanapun juga, di Indonesia orang kurang mampu akan selalu lebih banyak dari yang mampu. Karena itu yg mampu sudah seharusnya lebih banyak memberi. Filantrofi harus jadi bagian dari gaya hidup. Bukan hanya ketika Idul Adha atau Idul Fitri aja...
Ada banyak yang butuh bantuan dari aku, kamu atau kita... mereka yg mengungsi karena longsor dan banjir, yatim piatu, panti jompo, dan masih banyak lagi aku rasa....Pilihlah satu. Pilih satu area untuk bisa kamu bantu. Tolong mereka. Mereka orang Indonesia. Kayak kita juga...
Bantuan menurutku sih bukan hanya uang, tapi juga tenaga, waktu, bahkan expertise! Oke, mungkin yang lebih riil disini adalah uang....Tapi sekali lagi....ini dalam pendapat dan pikiranku yah.... Apa expertise yang kamu punya? Memasak? Organizing? Desain? Marketing? Berbicara? Jangan naif dan berpikir expertise tadi ga bisa menolong orang2 yang butuh bantuan kita.
You can always help !!! I'm SERIOUS....And My question is, WOULD YOU???
Guys...mungkin agak kedengeran sok atau gimana aku nulis tentang hal seperti ini...tapi mau nggak mau mereka bagian dari kita juga bukan? Buat Papa...terimakasih untuk selalu membantu mengingatkanku tentang semua ini...
Jakarta, 24 November 2008
[aprilia]
4 komentar:
pareto? wow.. darimana tuch dapetnya?
kalu ditanya, maukah membantu? ya sudah pasti mau, tetapi salurannya lewat mana? dari berita2 yg ada di televisi ada beberapa fakta :
1. mereka lebih suka memilih hidup di jakarta dan berprofesi sebagai pengemis atau pemulung, bahkan penghasilan mereka bisa 2 kali lipat dari UMR jakarta, sedangkan buruh2 saja untuk bisa 2x lipat harus bekerja 14 jam sehari 6xseminggu.
2. mereka bahkan mengajarkan anak2 nya untuk ikut mengemis, dan melupakan sekolah.
3. sudah beberapa kali pemda dan pusat mencoba membujuk mereka kembali ke kampung halaman, dgn biaya pemerintah, program transmigrasi dan lainnya, tetapi tetap mereka memilih tinggal di kolong jembatan dan menjadi pengemis atau pemulung.
4. sudah banyak juga LSM2 yg sepertinya menyuarakan suara2 mereka, tetapi ujung2 nya mereka hanya menginginkan untuk organisasi mereka atau diri mereka sendiri, lalu apa bedanya LSM2 tsb dengan pengemis atau pemulung? bedanya cuma di baju dan cas cis cus alias omongan dan janji2nya belaka.
dan fakta2 lainnya.
memang tidak semua seperti itu,tapi bila kita memang ingin menolong , tidakkah lebih baik mencari saluran yg benar, misalnya kalo kita buat saluran pembuangan, alih2 kita membuangnya ke sungai malah membanjiri rumah tetangga.
jadi , ada saran bagaimana kita membantu mereka?
Dear Daffa,
Thanks Bro buat commentnya...apa yang saya tulis itu berdasarkan apa yang saya lihat dan saya rasakan saja...Dan untuk fakta2 atau opini2 diluar sana, saya pun tidak menutup mata dan telinga ttg berita tsb begitu saja. Namun menurut saya, itu semua kembali ke hati nurani masing2 kok...Nggak perlu ngumpulin fakta2 dsb, kalo niat membantu langsung aja dan nggak perlu tengok kanan kiri. Ibarat tangan kanan memberi, sebaiknya tangan kiri jangan sampai tau...Semoga kita masih diberi mata, hati dan pikiran yang jernih untuk melihat dan menyikapi semua.
Thanks 'n have a nice day !
Regard,
Aprilia
To Lia:
This is a wonderful post. Apa yg km rasakan itu km perkuat dgn data yg akurat.
Awesome work n keep on writing girl...
To Mas Daffa:
Sebenarnya klo emang kita niat untuk mau lebih peka terhadap lingkungan sekitar, mas daffa gak perlu bingung2 untuk dapat membantu.
Saran saya, seperti yg ditulis Lia, mulailah dari yg dekat dan mulai dari yg kecil.
Mulai dari yg dekat maksudnya adalah untuk membantu sodara atau keluarga sendiri. Saya yakin dalam 1 keluarga pasti ada yg butuh bantuan. Or... coba liat lingkungan sekitar mas. Hansip, tukang sampah, pemulung panti asuhan di daerah rumah mas daffa itu jg termasuk yg butuh bantuan.
Mulai dari yg kecil disini adalah menolong bukan berarti spending your cash. Sebuah senyuman atau sapaan aja sbnarnya bisa mengurangi beban hidup yg mereka jalani. Atau... mas daffa cuma bisa membantu dgn tenaga, bisa ikut jd volunteer untuk mengajar anak2 yg terlantar atau volunteer work lainnya. Mungkin coba kontak rumah ibadah (masjid, Gereja) setempat.
Dalam menolong sesama, masalahnya sbnarnya bukan pada bgmana kita menyalurkannya, tp lebih kepada tantangan terberat yaitu ego ama keikhlasan. Kira2 bersedia gak untuk sedikit menurunkan "derajat" kita untuk mau berbagi dgn mereka n bener2 ikhlas.
Oh ya, saya jg ucapin terima kasih buat Mas Daffa yg ud menekankan klo gak smua LSM itu punya hidden agenda. Alhamdulillah slama bbrp taun di LSM yg berbeda2, saya blm pernah gabung di LSM yg mementingkan diri mereka sendiri. Jd klo emang pas Mas Daffa pengen membantu n bingung mo kmn nyalurinnya, please feel free to contact me at Simply.Aryo@gmail.com.
Mudah2an saya bisa membantu untuk urun rembug ;)
Lia... Maaf ya klo commentku kepanjangan ;) Mudah2an tulisan km bisa menggugah hati para pembaca.
Cheers,
Aryo
Posting Komentar