Sudah sepantasnya awal kemarau dengan panas yang menggeliat
Debu debu halus bangkit menari di pinggir aspal
Bebas dari ketakutan gerimis dan air hujan
Rumput masih menyimpan kesegaran di warna hijau
Namun bersiap dan menghemat tenaga untuk sekedar bertahan melewati kemarau nanti
Matahari datang menyerang
Menyengat siang dan pongah membakar kesejukkan
Seluruh isi bumi bertahan dan menyesuaikan
bersiap menghadapi yang terburuk
belajar untuk tidak melakukan kebodohan
tidak menghamburkan kebahagiaan
Untung ada malam
Hingga sang misteri menelan matahari
meredakan kemarau
Meski esok lebih panas lagi
Jakarta, 17 Juli 2009
[aprilia]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar